Mengenal Pemeriksaan Kateterisasi dan Angiografi

Mengenal Pemeriksaan Kateterisasi dan Angiografi

Penulis: dr. Arvin Pramudita

 

Jantung merupakan salah satu organ tubuh penting yang perlu dijaga. Organ ini bekerja 24 jam sehari non-stop dan berperan untuk memastikan perederan darah dalam tubuh kita berjalan dengan lancar. Seiring perkembangan zaman dan gaya hidup perkotaan yang semakin menguat, penyakit jantung banyak berkembang di masyarakat, mulai dari penyakit jantung koroner, pembengkakan jantung, hingga gangguan katup jantung.

Salah satu pemeriksaan yang dianjurkan dokter spesialis jantung untuk mengetahui kondisi organ vital ini ialah pemeriksaan kateterisasi jantung. Kateterisasi jantung pada dasarnya adalah tindakan non-pembedahan dimana selang kateter yang tipis (diameter sekitar 1,7 mm) dan panjang dimasukan ke pembuluh darah, kemudian diarahkan menuju jantung. Salah satu jenis kateterisasi jantung yang paling sering dikerjakan adalah pemeriksaan aliran pembuluh darah koroner jantung, yang dikenal sebagai angiografi koroner.

Pemeriksaan kateterisasi ini dimulai pada tahun 1929, ketika seorang dokter berkebangsaan Jerman, Werner Forssmann, melakukan percobaan pada dirinya sendiri dengan memasukan selang kateter urin ke pembuluh darah lengan kirinya hingga mencapai jantung. Tindakannya ini dianggap sebagai hal baru dan berani kala itu, tetapi berhasil membuka wawasan ahli jantung di dunia tentang potensi untuk pemeriksaan dan pengobatan berbagai gangguan jantung. Tekniknya kemudian disempurnakan oleh Andre Frederic Cournand dan Dickinson W. Richards, dua dokter dari Amerika Serikat, menjadi alat untuk menilai fungsi kinerja pompa jantung pada pasien dengan penyakit jantung. Ketiganya mendapatkan penghargaan Nobel di bidang kesehatan pada tahun 1956 atas penemuan ini.

Secara umum, pemeriksaan kateterisasi dan angiografi merupakan prosedur diagnostik, dimana dokter jantung akan melakukan tindakan ini untuk memperoleh data-data terkait fungsi dan performa pompa jantung, kelancaran aliran darah, patensi katup jantung, pola irama jantung, dan lain-lain. Dalam perkembangannya, pemeriksaan ini kemudian mampu menjadi prosedur terapeutik untuk mengobati berbagai penyakit jantung, antara lain:

  • Tindakan angioplasti, yaitu melebarkan pembuluh darah koroner jantung yang mengalami penyumbatan dengan menggunakan balon dan/atau ring jantung (stent).
  • Tindakan perbaikan pada katup jantung, termasuk memperbaiki katup yang bocor, kaku, hingga mengganti dengan katup buatan
  • Tindakan penutupan lubang pada dinding jantung, baik itu akibat kelainan jantung bawaan atau komplikasi serangan jantung, dengan menggunakan penutup sintetis yang dikembangkan di dalam jantung.
  • Tindakan ablasi, yaitu memetakan sumber kelainan arus listrik pada penyakit gangguan irama jantung dan mematikan sumber arus listrik tersebut.

Pemeriksaan kateterisasi dan angiografi telah berkembang lebih dari 50 tahun. Tindakan ini merupakan prosedur non-pembedahan yang sangat aman, hanya menggunakan bius lokal di tempat penyuntikan jarum suntik, dengan angka kejadian komplikasi dilaporkan hanya 1,35% dengan terbanyak adalah gangguan perdarahan. Tidak ada kontraindikasi mutlak untuk melakukan kateterisasi dan angiografi.

Bagi mereka yang akan melakukan pemeriksaan kateterisasi dan angiografi, dokter biasanya akan menginstruksikan untuk puasa selama minimal 4 jam sebelum tindakan. Konsumsi air putih masih diperbolehkan hingga 1 jam sebelum tindakan agar pasien tidak mengalami kondisi kekurangan cairan. Pada beberapa kondisi, dokter biasa akan memberikan obat penenang agar pasien lebih rileks pada saat dilakukan tindakan. Bagi pasien yang memiliki kondisi penyerta tertentu, seperti gangguan ginjal atau masalah pembekuan darah, sebaiknya juga menginformasikan hal ini kepada dokter agar persiapan tindakan bisa disesuaikan dengan kondisi yang ada.

 

Referensi:

  1. Libby P, et al, editors. Braunwald’s Heart Disease: A Textbook of Cardiovascular Medicine, 12st ed. Elsevier; 2022.
  2. Grossman & Baim’s Cardiac Catheterization, Angiography, and Intervention, 8th ed. LWW; 2014