Kaki Bengkak Tidak Selalu Gagal Jantung, Kenali juga DVT!

Kaki Bengkak Tidak Selalu Gagal Jantung, Kenali juga DVT!

Penulis: dr Edwin Adhi Darmawan Batubara

 

        Masyarakat awam umumnya mengenali jika seseorang mememiliki gejala kaki bengkak, biasanya disebabkan oleh gagal jantung atau gagal ginjal. Namun, dalam dunia medis, gejala tersebut bisa menggambarkan berbagai penyakit, salah satunya trombosis vena dalam atau deep vein thrombosis (DVT). DVT adalah kondisi medis ketika terbentuk gumpalan di pembuluh darah vena dalam. Gumpalan ini biasanya terbentuk di tungkai bawah, paha, atau panggul, tetapi bisa juga terjadi di lengan. Penting untuk mengetahui tentang DVT karena dapat terjadi pada siapa saja dan dapat menyebabkan penyakit serius, kecacatan, dan dalam beberapa kasus, kematian.

            Beberapa risiko yang meningkatkan kemungkinan terjadi DVT antara lain cedera pada pembuluh darah yang dapat disebabkan oleh patah tulang, cedera otot parah, atau operasi besar, imobilisasi yang disebabkan kondisi medis atau pasca operasi, duduk dalam waktu lama, peningkatan hormon estrogen akibat penggunaan pil KB maupun kehamilan, penyakit kronis tertentu seperti penyakit jantung, paru-paru, kanker, radang usus, serta riwayat di keluarga, usia diatas 40 tahun, obesitas, kelainan genetik, dan merokok. Sekitar 70% orang dengan DVT mengeluhkan bengkak di tungkai atau lengan dan biasanya hal ini terjadi tiba-tiba. Nyeri dialami oleh sekitar 50% orang yang mungkin hanya dirasakan ketika berdiri maupun berjalan. Keluhan lain dapat berupa area yang menjadi bengkak dan nyeri terasa lebih hangat, kemerahan, tampak pelebaran pembuluh darah di kulit, nyeri perut maupun punggung jika gumpalan darah terjadi di area perut, nyeri kepala dan bahkan kejang jika gumpalan darah mengenai area otak. Beberapa orang tidak mengetahui mereka mengalami DVT sampai gumpalan bergerak dari tungkai atau lengan ke paru-paru yang disebut emboli paru. Gejala emobli paru akut adalah nyeri dada, sesak napas, batuk darah, pusing dan pingsan.

            Dokter mungkin memerlukan beberapa pemeriksaan untuk memastikan diagnosa DVT diantaranya pemeriksaan darah (D-dimer, profil koagulasi), duplex ultrasonografi, CT-Scan, MRI, dan yang lebih invasif dengan venografi. Penanganan dari penyakit ini melibatkan obat pengencer darah, penggunaan stoking kompresi, pemasangan inferior vena cava filter untuk mencegah gumpalan darah berpindah ke paru-paru, atau tindakan lain yang lebih invasif untuk menghilangkan gumpalan darah tersebut, tergantung dari kondisi masing-masing pasien.

            Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah kejadian DVT antara lain usahakan mobilisasi segera setelah kondisi bedrest, konsumsi obat teratur sesuai anjuran dokter jika anda memiliki risiko, dan jika duduk dalam periode lama misalnya saat sedang berpergian lebih dari 4 jam, berdiri dan berjalan setiap 1-2 jam, banyak menggerakan kaki ketika duduk, dan gunakan pakaian yang longgar. Anda dapat menurunkan risiko kejadian DVT dengan menjaga berat badan ideal, menghindari sedentary lifestyle, dan mengikuti rekomendasi dokter berdasarkan faktor risiko masing-masing.

 

Bedside Diagnosis of Deep Vein Thrombosis Using a Pocket-Sized Ultrasound  Device - The American Journal of Medicine

              

 

 

          

 

Referensi:

·      https://www.cdc.gov/ncbddd/dvt/facts.html#:~:text=Deep%20vein%20thrombosis%20(DVT)%20is,also%20occur%20in%20the%20arm.

·        https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK507708/

·        https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/16911-deep-vein-thrombosis-dvt

·        https://pivotalmotion.physio/deep-vein-thrombosis/

·        https://www.amjmed.com/article/S0002-9343(17)31014-8/fulltext

https://www.semanticscholar.org/paper/MR-Venography-for-the-Assessment-of-Deep-Vein-in-Tamura-Nakahara/949446c9399e0152d996b10fdb29f6dd5dc82a86

Sumber gambar cover: freepik.com