Bahaya Penyakit Jantung Mengintai Anak dengan Obesitas

Bahaya Penyakit Jantung Mengintai Anak dengan Obesitas

 

Penulis: dr. Natalia Jaman

 

Pernakah anda melihat anak-anak terutama anak usia balita dengan tubuh gempal dan pipi yang chubby? Tentunya nampak lucu dan menggemaskan, namun tahukah anda bahwa di balik itu ada bahaya kesehatan yang mengintai masa depannya?

Anak yang nampak gemuk sering kali dianggap memiliki pertumbuhan yang lebih sehat sehingga banyak orang tua yang berlomba-lomba berusaha agar anaknya memiliki nafsu makan yang baik. Padahal berat badan bukanlah satu-satunya indikator anak sehat. Alih-alih menjadi sehat, berat badan yang berlebihan dapat meningkatkan risiko timbulnya berbagai macam penyakit, bukan hanya pada usia anak namun juga di masa depan ketika anak menjadi dewasa.

Obesitas sendiri adalah kondisi dimana indeks massa tubuh atau body mass index (BMI) berada lebih dari standar seharusnya. BMI dapat diukur dengan cara membagi Berat badan dalam kilogram terhadap tinggi badan kuadrat dalam meter. Menurut World Health Organization (WHO) orang dewasa dikatakan obesitas bila BMI lebih dari sama dengan 30 kg/m2 dan overweight jika lebih dari sama dengan 25 kg/m2, sementara pada anak BMI diukur dengan menggunakan grafik sesuai dengan kelompok usia masing-masing. Menurut kementrian kesehatan Indonesia, 18.8% anak usia 5-12 tahun di Indonesia mengalami kelebihan berat badan dan 10.8% mengalami obesitas. Pada kelompok usia diatas 18 tahun angka obesitas adalah sebesar 28.7% pada tahun 2013 dan naik menjadi 33.5% pada tahun 2016.

Obesitas terutama pada anak disebabkan oleh berbagai faktor antara lain faktor keturunan dan faktor lingkungan, namun faktor lingkungan merupakan faktor risiko terbesar sebagai penyebab terjadinya obesitas. Konsumsi makanan tinggi lemak, karbohidrat, dan kalori yang berlebih  disertai dengan aktivitas fisik yang kurang ditengarai merupakan penyebab utama terjadinya obesitas pada anak. Kejadian obesitas inilah yang ditakutkan ke depannya menjadi faktor risiko timbulnya berbagai macam penyakit khususnya penyakit jantung pada saat anak beranjak dewasa.

Menurut beberapa penelitian obesitas pada anak meningkatkan resiko terjadinya penyakit jantung seperti hipertensi atau tekanan darah tinggi dan aterosklerosis atau penyumbatan pembuluh darah yang nantinya akan menyebabkan penyakit jantung koroner dan serangan jantung. Anak dan remaja yang mengalami obesitas dapat mengalami peningkatan tekanan darah dan penebalan dinding jantung. Penelitian lain menyebutkan pada dewasa muda yang mengalami obesitas, BMI yang lebih tinggi akan menyebabkan efek buruk lebih lama untuk tekanan darah dan struktur jantung. Selain itu dewasa muda yang mengalami obesitas juga lebih mungkin mengalami penyakit jantung dan stroke pada usia muda dan risiko meninggal muda lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang memiliki BMI normal.Begitu pula pada anak dengan obesitas, risiko timbulnya penyakit jantung dan stroke ke depannya lebih tinggi dibandingkan anak dengan BMI yang normal. Sebuah penelitian di Inggris menemukan bahwa usaha untuk menurunkan BMI pada usia anak-anak lebih efektif dibandingkan dengan menurunkan BMI ketika sudah memasuki usia dewasa. Oleh karena itu untuk mencegah risiko diatas sebaiknya anak-anak dibiasakan sejak kecil untuk melakukan pola hidup yang sehat untuk mencegah peningkatan berat badan berlebih dan obesitas. Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain dengan mengatur pola makan mencakup jumlah, jenis, jadwal makan, dan pengolahan bahan makanan. Bila menggunakan piring makan model T seperti pada gambar 1, maka jumlah sayur 2 kali lipat jumlah karbohidrat (nasi, mie, roti, pasta, singkong, dll) dan jumlah bahan makanan protein setara dengan karbohidrat. Sayur dan atau buah minimal harus sama dengan jumlah karbohidrat ditambah protein. Pola emosi makan atau kebiasaan makan juga perlu diatur, seperti kebiasaan memilih jenis makanan yang tidak sehat antara lain makanan cepat saji atau camilan dengan lemak, gula, dan garam yang tinggi harus bisa dicegah.Selain mengatur makanan yang masuk, kalori yang keluar pun harus diatur dengan pola hidup aktif dan meningkatkan aktivitas fisik seperti olahraga. Pola tidur pun  harus dijaga agar tetap seimbang (tidur 6-8 jam sehari).

 

 

Referensi :

Umer A, Kelley GA, Cottrell LE, Giacobi Jr P, Innes KE, Lilly CL. Childhood obesity and adult cardiovascular disease risk factors : a systematic review with meta–analysis. BMC Public Health. 2017;17:683.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Epidemi Obesitas. Diunduh dari http://p2ptm.kemkes.go.id/uploads/N2VaaXIxZGZwWFpEL1VlRFdQQ3ZRZz09/2018/02/FactSheet_Obesitas_Kit_Informasi_Obesitas.pdf

Wade KH, Chiesa ST, Hughes AD, Chaturvedi Nish, Charakida M, Rapala A, et al. Assessing the causal role of body mass index on cardiovascular health in young adults, Mendelian Randomization and recall-by-genotype analyses. Circulation. 2018;138:2187-2201.

Sumbergambar :http://p2ptm.kemkes.go.id/uploads/N2VaaXIxZGZwWFpEL1VlRFdQQ3ZRZz09/2018/02/FactSheet_Obesitas_Kit_Informasi_Obesitas.pdf