Olahraga pada Individu dengan Gangguan Irama Jantung

Olahraga pada Individu dengan Gangguan Irama Jantung

Penulis: dr. Rizky Eka Putra Yuriza

 

Olahraga seperti yang kita ketahui merupakan salah satu upaya aktif untuk menjaga kesehatan tubuh termasuk kesehatan jantung. Olahraga dan latihan fisik yang rutin dan teratur berhubungan dengan penurunan angka kematian, risiko kejadian penyakit kardiovaskular, dan juga menurunkan sejumlah kejadian keganasan. Terlepas dari manfaat yang diberikan tadi, latihan fisik yang intens secara paradoks juga dapat memicu kondisi berbahaya seperti gangguan irama yang mengancam nyawa pada orang-orang yang sudah memliki penyakit kardiovaskular yang mendasari. Lalu bagaimana dengan pasien-pasien penyakit jantung yang memiliki gangguan pada iramanya? Apakah boleh seorang penderita atrial fibrilasi atau takikardi supraventrikular melakukan olahraga? Perhimpunan Kardiologi Eropa atau European Society of Cardiology (ESC) pada tahun 2020 telah merilis panduan tentang olahraga dan latihan fisik pada pasien yang memiliki penyakit kardiovaskular. Kali ini kita akan membahas salah satu kondisi yaitu pasien yang memiliki gangguan irama jantung (aritmia).

Pada individu yang memiliki aritmia yang sudah diketahui atau memiliki kondisi yang berpotensi untuk mengalami aritimia, ketika ingin melakukan aktivitas olahraga haruslah mengacu pada 3 hal. Pertama, apakah ada peningkatan risiko terjadinya aritmia yang mengancam nyawa? Kedua, apakah seorang penderita mampu mengontrol gejala aritmia yang muncul saat berolahraga atau saat istirahat? Terakhir apakah aktivitas olaharaga berdampak dalam progres alamiah kondisi aritmia? Secara konsep, fungsi dan struktur jantung mengalami adaptasi saat seseorang melakukan latihan fisik secara intensif dan hal itu dapat berkontribusi pada perkembangan aritmia pada daerah serambi jantung (atrium), bilik jantung (ventrikel) dan area pacu jantung (nodus). Hal inilah mengapa perlu pertimbangan dan penanganan hati-hati dalam menerapkan olahraga sebagai rutinitas.

1. Rekomendasi pada pasien atrial fibrilasi

Untuk sahabat Harapan Kita yang belum mengetahui, atrial fibrilasi merupakan kondisi dimana atrium tidak mampu untuk berkontraksi secara normal melainkan hanya ‘bergetar’ saja. Kondisi ini menyebabkan sensasi tidak nyaman di dada yaitu berdebar-debar, napas terasa sesak, lemas dan kelelahan. Kondisi ini biasanya berisiko untuk meningkatkan terjadinya bekuan atau gumpalan darah karena tidak mengalirnya dengan baik darah dari atrium ke ventrikel sehingga pasien bisa berisiko mengalami stroke, gagal jantung atau kematian mendadak.

Menurut panduan, pasien dengan atrial fibrilasi direkomendasikan untuk melakukan olahraga dengan catatan sebagai berikut:

  • Aktivitas fisik secara regular direkomendasikan untuk mencegah atrial fibrilasi
  • Kelainan struktur jantung, fungsi kelenjar tiroid, alkohol dan semua sebab pencetus atrial fibrilasi harus dievaluasi terlebih dahulu sebelum mulai lakukan olahraga
  • Pasien harus melakukan konseling mengenai efek jangka panjang dari olahraga intensitas tinggi dalam menyebabkan kejadian kembali atrial fibrilasi terutama pada usia dewasa muda
  • Tindakan ablasi/prosedur intervensi khusus dianjurkan pada individu yang alami gejala atrial fibrilasi berulang atau pada individu yang tidak menginginkan terapi obat-obatan
  • Denyut nadi saat berolahraga harus dipantau setiap kali

Pada pasien atrial fibrilasi yang konsumsi obat pengencer darah, tidak disarankan untuk melakukan olahraga yang bersifat kontak badan secara langsung dan berisiko timbulkan trauma

2. Rekomendasi pada pasien takikardi supraventrikular

Pada kondisi ini, kontraksi atau denyut jantung yang sangat cepat melampaui kecepatan normal sehingga darah yang dipompa ke seluruh tubuh tidak mencukupi. Hal ini juga perlu menjadi perhatian penting. Hal-hal yang perlu menjadi catatan yaitu:

  • Untuk individu yang memiliki keluhan berdebar-debar, pemeriksaan komprehensif untuk memastikan takikardi supraventrikular tidak disertai dengan aritmia yang mengancam nyawa lain
  • Semua jenis olahraga diperbolehkan pada individu dengan takikardi supraventrikular tanpa kelainan aritmia berbahaya lain seperti sindrom pre-eksitasi
  • Prosedur ablasi juga direkomendasikan untuk para individu yang memiliki sindrom pre-eksitasi

Selain dua kelainan irama tadi, masih ada beberapa jenis aritmia lainnya yang perlu jadi perhatian seperti individu yang memiliki kontraksi ventrikel prematur, sindrom long QT dan lainnya. Lalu bagaimana dengan durasi dan frekuensi untuk olahraganya? Secara umum latihan fisik cukup sekitar 30 menit tiap kali latihan dan dilakukan sebanyak 3-5x per pekan. Jenis latihan yang dilakukan bisa seperti jogging, renang, bersepeda, dan lainnya. Namun perlu diingat, sangat dianjurkan sekali bagi yang pernah mengalami aritmia atau berisiko, periksakan diri ke dokter jantung terlebih dahulu untuk dinilai seberapa besar risiko dan manfaat, dosis latihan fisik yang bisa dilakukan dan pilihan-pilihan lainnya yang dinilai memberikan manfaat sehingga mendapatkan panduan dan pengawasan yang baik meskipun memiliki kelainan aritmia jantung.

Sekian, semoga bermanfaat.

Save The Heart, Save The Future.

 

Referensi:

Pelliccia A, Sharma S, Gati S, Bäck M, Börjesson M, Caselli S, et al. 2020 ESC guidelines on sports cardiology and exercise in patients with cardiovascular disease. European Heart Journal. 2020;42:17–96.

Sumber gambar: freepik.com