Menu Content/Inhalt
Profil arrow Artikel arrow Hipertensi: Faktor Risiko dan Penatalaksanaannya

Utama

Profil
Beranda

Statistic Counter

1,517,486Visitors:
562Visitors today:
697Visitors yesterday:
485.65Visitors per day: Ø
11,730,497Page views:
2,786Page views today:
3,739Page views yesterday:
3,754.18Page views per day: Ø
7.73Page views per visitor: Ø
2,468Page views this page:
1Your own page views:
0%JavaScript enabled:
max.
320Max. online:
2008-07-21, 06:12:11at (date):
1,566Max. visitors per day:
2008-11-17at (date):
24,099Max. page views per day:
2011-09-09at (date):
 
© 2006 mob-i-co
Hipertensi: Faktor Risiko dan Penatalaksanaannya PDF Print E-mail
Written by Irfan Arief   
Tuesday, 27 May 2008

Penyakit darah tinggi yang lebih dikenal sebagai hipertensi merupakan salah satu faktor risiko terjadinya Penyakit Jantung Koroner (PJK) dan stroke sehingga memerlukan  penanganan yang cepat dan tepat.

Dari berbagai penelitian epidemiologis yang dilakukan di Indonesia menunjukkan 1,8 – 28,6% penduduk yang berusia di atas 20 tahun adalah penderita hipertensi.

 

DEFINISI HIPERTENSI

Suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah diatas normal yang mengakibatkan peningkatan angka kesakitan (morbiditas) dan angka kematian (mortalitas).

Penulisan tekanan darah (contoh : 130/85 mmHg) didasarkan pada dua fase dalam setiap denyut jantung.

  1. Sistolik (nilai yang lebih tinggi : 130) menunjukkan fase darah yang sedang dipompa oleh jantung.
  2. Diastolik (nilai yang lebih rendah : 85) menunjukkan fase darah yang kembali ke jantung.

Menurut WHO batas tekanan darah yang masih dianggap normal adalah kurang dari 130/85 mmHg.

Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibedakan menjadi dua bagian:

  1. Hipertensi essensial/primer. Jenis hipertensi yang penyebabnya masih belum dapat diketahui. Sekitar 90% penderita hipertensi menderita jenis hipertensi ini.Oleh karena itu, penelitian dan pengobatan lebih banyak ditujukan bagi penderita hipertensi essensial ini.
  2. Hipertensi sekunder. Jenis hipertensi yang penyebabnya dapat diketahui, antara lain kelainan pada pembuluh darah ginjal, gangguan kelenjar tiroid, atau penyakit kelenjar adrenal.


FAKTOR RISIKO DAN GEJALA KLINIS HIPERTENSI

 Faktor risiko terjadinya hipertensi, adalah antara lain:

Obesitas (kegemukan). Merupakan ciri khas penderita hipertensi. Walaupun belum diketahui secara pasti hubungan antara hipertensi dan obesitas, namun terbukti bahwa daya pompa jantung dan sirkulasi volume darah penderita obesitas dengan hipertensi lebih tinggi daripada penderita hipertensi dengan berat badan normal.

Stress. Diduga melalui aktivasi saraf simpatis (saraf yang bekerja pada saat kita beraktifitas).Peningkatan  aktivitas saraf simpatis mengakibatkan meningkatnya tekanan darah secara intermitten (tidak menentu).

Faktor keturunan (genetik). Apabila riwayat hipertensi didapati pada kedua orang tua, maka dugaan hipertensi essensial akan sangat besar. Demikian pula dengan kembar monozigot   (satu sel telur) apabila salah satunya adalah penderita hipertensi.

Jenis Kelamin (gender). Pria lebih banyak mengalami kemungkinan menderita hipertensi daripada wanita. Hipertensi berdasarkan gender ini dapat pula dipngaruhi oleh faktor psikologis. Pada wanita seringkali dipicu oleh perilaku tidak sehat (merokok, kelebihan berat badan), depresi, dan rendahnya status pekerjaan. Sedangkan pada pria lebih berhubungan dengan pekerjaan, seperti perasaan kurang nyaman terhadap pekerjaan dan pengangguran.

Usia. Dengan semakin bertambahnya usia, kemungkinan seseorang menderita hipertensi juga semakin besar

Asupan garam. Melalui peningkatan volume plasma (cairan tubuh) dan tekanan darah yang akan diikuti oleh peningkatan ekskresi kelebihan garam sehingga kembali pada keadaan hemodinamik (sistem perdarahan) yang normal. Pada hipertensi essensial mekanisme inilah yang terganggu.

Gaya hidup yang kurang sehat. Walaupun tidak terlalu jelas hubungannya dengan hipertensi namun kebiasaan merokok, minum minuman beralkohol dan kurang olah raga dapat pula mempengaruhi peningkatan tekanan darah.

Adapun gejala klinis yang dialami oleh para penderita hipertensi biasanya berupa:

  • Pusing
  • Mudah marah
  • Telinga berdengung
  • Sukar tidur
  • Sesak nafas
  • Rasa berat di tengkuk
  • Mudah lelah
  • Mata berkunang-kunang
  • Mimisan (jarang dilaporkan)

 

PENATALAKSANAAN FAKTOR RISIKO

Penanganan/Pengobatan Hipertensi

  • Pengobatan Non-farmakologis. Terkadang dapat mengontrol tekanan darah sehingga pengobatan farmakologis tidak diperlukan, atau minimal ditunda
  • Pengobatan Farmakologis. Pengobatan dengan menggunakan obat-obatan kimiawi.
 
Penatalaksanaan faktor risiko dilakukan dengan cara pengobatan secara non-farmakologis, antara lain:
  1. Mengatasi Obesitas. Dengan melakukan diet rendah kolesterol, namun kaya dengan serat dan protein. Dianjurkan pula minum suplemen potassium dan kalsium. Minyak ikan yang kaya dengan asam lemak omega-3 juga dianjurkan. Diskusikan dengan dokter ahli/ahli gizi sebelum melakukan diet.
  2. Mengurangi Asupan garam ke dalam tubuh Harus memperhatikan kebiasaan makan penderita hipertensi. Pengurangan asupan garam secara drastis akan sulit dilaksanakan, jadi sebaiknya dilakukan secara bertahap dan tidak dipakai sebagai pengobatan tunggal.
  3. Menghindari stress. Ciptakan suasana yang menenangkan bagi pasien penderita hipertensi. Perkenalkan berbagai metode relaksasi seperti yoga atau meditasi, yang dapat mengontrol sistem saraf yang akhirnya dapat menurunkan tekanan darah.
  4. Memperbaiki gaya hidup yang kurang sehat
Anjurkan kepada pasien penderita Hipertensi untuk melakukan olah raga seperti senam aerobik atau jalan cepat selama 30-45 menit sebanyak 3-4 kali seminggu. Selain itu menghentikan kebiasaan merokok dan mengurangi minum minuman beralkohol sebaiknya juga dilakukan.

Dipresentasikan pada:

Penyuluhan Dokter-dokter Puskesmas se-DKI Jakarta, Auditorium Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, 14 April 2004

 

Last Updated ( Tuesday, 27 May 2008 )
 
< Prev   Next >

Info Terkini